Wednesday, 18 July 2012

Selayang pandang AIS


 
Pembuka
AIS adalah singkatan dari Automatic Identification System yaitu sistim yang dapat memberikan informasi secara otomatis tentang data-data suatu kapal kepada kapal lain dan pemangku jabatan di suatu Negara pantai.

Prinsip kerja AIS:
AIS bekerja dengan menggunakan frequensi sangat tinggi (Very High Frequency – VHF), yaitu antara 156 – 162 MHz. Sistim yang ada secara umum ada 2 jenis, yaitu AIS Class A dan AIS Class B. Namun AIS yang sesuai dengan standard IMO adalah AIS Class A (IMO Resolution A.917(22)), yaitu AIS yg menggunakan skema akses komunikasinya menggunakan sistim SO-TDMA (Self-organized Time Division Multiple Access) sedangkan AIS Class B menggunakan sistim CS-TDMA (Carrier-sense Time Division Multiple Access). Daya pancaran AIS Class A sampai dengan 12,5 watt sedangkan AIS Class B hanya 2 watt, dan fasilitas lainnya yang dimiliki oleh AIS Class A lebih lengkap dbanding dengan AIS Class B. Perbedaan secara singkat antara kedua jenis AIS tersebut adalah:
·       Class A dapat menyampaikan laporan setiap 10 detik sedangkan Class B setiap 30 detik;
·       Class A mampu mengirimkan IMO number, sedangkan Class B tidak;
·       Class A dapat mengirim ETA atau tujuan kapal, sedangkan Class B tidak;
·       Class A dapat mengirimkan status navigasi, sedangkan Class B tidak;
·       Class B hanya disyaratkan dapat menerima pesan keselamatan tertulis, sedangkan Class A harus dapat mengirim dan menerima;
·       Class B hanya disyaratkan dapat menerima pesan-pesan biner, sedangkan Class A harus dapat mengirim dan menerima;
·       Class B tidak perlu dapat mengirim informasi Rate of turn kapal, sedangkan Class A harus dapat;
·       Class B tidak disyaratkan dapat mengirim sarat kapal (maximum present static draught), Class A harus dapat.
Kapal-kapal yang dilengkapi dengan perangkat AIS dapat memancarkan dan menerima berbagai informasi data tentang kapal-kapal disekitarnya secara otomatis, baik berupa tampilan pada layar Radar, maupun peta electronic (Electronic Navigation Chart – ENC ataupun Electonic Chart Display and Information System – ECDIS). Selain mengirim dan menerima informasi data, kapal yang dilengkapi dengan AIS juga dapat memonitor dan melaacak gerakan kapal-kapal lain yang juga dilengkapi dengan AIS (pada jarak jangkauan VHF). Informasi data kapal-kapal tersebut juga dapat diterima juga oleh stasion pangkalan di darat, misalnya stasion VTSs (Vessel Traffic Services)
Informasi data-data kapal yang dimaksud antara lain: IMO Number, Call-sign, MMSI, posisi kapal (lintang dan bujur), jenis kapal, Haluan dan kecepatan, Static Draugh, panjang dan lebar kapal, tujuan, rate of turn, status navigasi, adanya muatan berbahaya di kapal, dan informasi lain yang diperlukan untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran.

Tujuan diberlakukannya AIS dalam dunia pelayaran
Konsep awal usulan bahwa kapal-kapal wajib dilengkapi dengan AIS adalah factor keamanan maritime. Namun dasar diterimanya AIS oleh mayoritas anggota IMO yang mengikuti sidang MSC ke 69 dan sidang Assembly ke 22 adalah atas dasar, bahwa dengan dilengkapinya kapal-kapal dengan perangkat AIS, maka keselamatan jiwa di laut dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan keselamatan, keamanan dan efisiensi navigasi, serta meningkatkan perlindungan terhadap lingkungan maritime dari pencemaran. Selain itu, AIS juga sangat berguna untuk operasi SAR apabila terjadi musibah kecelakaan kaal-kapal di laut.

Peraturan-peraturan tentang AIS
Peraturan 19 dari pada SOLAS Bab V – Persyaratan untuk membawa peralatan dan sistimnavigasi (Carriage requirements for shipborne navigational systems and equipment) – menetapkan semua peralatan navigasi yang harus ada di atas kapal sesuai dengan tipe kapalnya. Pada tahun 2000, IMO mengadopsi persyaratan baru bahwa semua kapal harus dilengkapi dengan automatic identification systems (AISs) yang mampu memberikan informasi tentang kapal, ke kapal lain dan pemangku jabatan di suatu Negara pantai, secara otomatis. .
Peraturan tersebut mewajibkan kapal-kapal 300 gt atau lebih yang berlayar secara internasional (international voyage), kapal-kapal barang 500 gt atau lebih yang berlayar secara internasional dan kapal penumpang tanpa melihat ukurannya, harus dilengkapi dengan AIS. Peraturan tersebut berlaku secara penuh untuk semua kapal, pada tanggal 31 Desember 2004.
Kapal-kapal yang dilengkapi dengan AIS, diwajibkan menjaga agar AIS beroperasi tanpa terputus, kecuali terdapat suatu perjanjian internasional tentang aturan atau standard layanan informasi navigasi.
Sebuah Negara dimana bendera kapal dikibarkan (Flag State), boleh jadi memberi pengecualian bagi kapal2nya untuk dibebaskan dari ketentuan membawa AIS apabila kapal-kapal dimaksud tidak akan dioperasikan selamanya, dua tahun sejak pemberlakuan ketentuan tentang AIS.
Standard kinerja sebuah perangkat AIS mulai diadopsi pada tahun 1998.
Peraturan mensyaratkan bahwa AIS harus:
  • menyediakan informasi – termasuk identitas kapal, tipe kapal, posisi kapal, haluan dan kecepatan kapal, status navigasi dan informasi lain yang ada kaitannya dengan keselamatan – secara otomatis kepada stasion pantai, kapal lain dan pesawat terbang yang dilengkapi dengan perangkat AIS;
  • mampu menerima secara otomatis tentang informasi dari kapal lain, memonitor dan melacak kapal lain yang dilengkapi dengan perangkat yang serupa; 
  • mampu melakukan pertukaran data dengan pangkalan di darat. 

Peraturan menetapkan, khusus untuk kapal-kapal yang dibuat pada 1 Juli 2002 atau sesudah itu, dan kapal-kapal yang berlayar secara internasional yang dibuat sebelum tanggal 1 Juli 2002, dijadwalkan sebagai berikut:
  • kapal-kapal penumpang, paling lambat tanggal 1 Juli 2003;
  • kapal-kapal tankers, paling lambat pada survey alat-alat keselamatan yang pertama, atau setelah 1 Juli 2003;
  • kapal-kapal, selain kapal penumpang dan kapal tanker 50.000 gt atau lebih, paling lambat tanggal 1 Juli 2004.

Perobahan SOLAS yang diadopsi pada Diplomatic Conference on Maritime Security bulan Desember 2002 menetapkan bahwa, sebagai tambahan, kapal-kapal 300 gt atau lebih, tetapi kurang dari 50.000 gt, harus dilengkapi dengan AIS paling lambat pada survey alat keselamatan yang pertama setelah tanggal 1 Juli 2004, atau tanggal 31 Desember 2004, apabila dilaksanakan lebih awal. 

Keamanan Maritim – Data kapal AIS
Maritime Safety Committee (MSC) pada sidangnya yang ke 79 pada bulan Desember 2004 menyetujui bahwa berkaitan dengan publikasi informasi AIS tentang data2 kapal secara bebas di internet sangat mengganggu wibawa organisasi, dan merendahkan upaya yang telah dilakukan Negara anggota IMO untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan di sector transportasi laut.
Komite telah mengecam keras terhadap publikasi di internet yang tidak bertanggung jawab tersebut, dan meminta dengan sangat kepada semua Negara anggota IMO untuk membuat peraturan-peraturan pelarangan tentang publikasi informasi data kapal dari sistim AIS ini, baik yang dipublikasikan melalui internet maupun media yang lainnya. Dan menindak keras bagi para pelakunya, termasuk kepada mereka yang menawarkan layanan tentang pelayaran dan industri kepelabuhanan.

Informasi lebih rinci tentang cara kerja dan kenerja AIS dapat dilihat pada Resolusi A.917(22) Guidelines for the onboard operational use of shipborne automatic identification systems (AIS) – dan Resolusi MSC.74(69) includes Recommendation on Performance Standards for Universal Automatic Identification System (AIS)
IMO Head Quarter 4th Floor
HNS Convention Conference 2010

16 comments:

  1. Atas pertanyaan teman2: "apa yang melatar-belakangi diberlakukannya AIS?". Dapat kami sampaikan disini bahwa diberlakukannya AIS dilatarbelakangi adanya upaya meningkatkan keamanan maritim (maritime security), untuk mengawasi kapal2 yg memasuki suatu wilayah perairan negara lain, terhadap ancaman adanya teroris dan sejenisnya. Namun AIS ini baru dapat diterima oleh anggota IMO yang mengikuti sidang MSC, melihat kenyataan bahwa AIS tidak hanya untuk meningkatkan keamanan maritim, tetapi juga dapat meningkatkan keselamatan navigasi dan upaya meningkatkan pencegahan pencemaran laut oleh kapal2.

    ReplyDelete
  2. Mau Tanya Capt. Hadi... kalau kapal kapal ikan dengan berat 20 - 50 gt, kemudian kita pasang AIS bisa nggak...

    ReplyDelete
  3. Sdr YB6AK,
    Semua kapal bisa dipasangi AIS. Seperti pada tulisan saya di atas, latar belakang diterbitkan aturan tentang AIS ini adalah untuk meningkatkan KEAMANAN, shg lepas dari ketentuan SOLAS, USA (US Coast Guard) mensyaratkan SEMUA KAPAL yang memasuki wilayah amerika serikat wajib dilengkapi dengan AIS, termasuk kapal2 ikan 20 - 50 gt.(sedikitnya AIS Class B). Tetapi kalau menurut SOLAS, hanya diwajibkan bagi kapal2 500 gt atau lebih dan berlayar secara internasional,

    ReplyDelete
  4. Tulisan yang bagus untuk menambah wawasan saya tentang AIS.
    Namun perangkat ini yang awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan justru dimanfaatkan pihak-pihak lain seperti perompak untuk melakukan kejahatan di laut.
    Saya mau tanya, Capt. Hadi. Apakah pemerintah RI (Kemenhub) telah membuat aturan khusus tentang pemasangan AIS bagi kapal-kapal berbendera Indonesia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sdr. Maris, saya mohon maaf baru bisa jawab. Kalau sepengetahuan saya, pengaturan bagi kapal2 yg kena ketentuan SOLAS, sudah dilakukan. Menyangkut penerbitan Sertifikat Keselamatan (Cartgo Ship Safety Equipment Certificate). Kalau kapal yg tida kena SOLAS kelihatannya belum ada kewajiban. Ttp PEMRI sudah memasang pemantau AIS di beberapa pelabuhan utama seperti Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan masih ada beberapa pelabuhan utama lain. Maaf saya tidak hafal
      Btw saya setuju bahwa ternyata perompak mendapat keuntungan dengan adanya AIS ini.

      Delete
  5. Dari pertanyaan para taruna PIP Semarang, saya ingin menambahkan sedikit tentang AIS ini:
    Bahwa prinsip kerja AIS sebagaimana yang telah saya sampaikan sebelumnya, adalah menggunakan VHF (Very High Frequency), yaitu antara 156 - 162 MHz. Sistim komunikasi VHF ini adalah "Line of sight communication". Artinya, pihak-pihak yang berkomunikasi harus saling melihat antenna nya satu sama lain. Apabila dibatasi oleh cakrawala, maka komunikasi tidak dapat berlangsung. Jarak aman (safety distance) untuk "line of sight communication" adalah 35 mil. Oleh karena itu jarak jangkau AIS rata-rata adalah 35 mil. Adanya keterlibatan stasion pantai yang mengelola informasi pada sistim AIS dari kapal-kapal yang berada pada jangkauannya, dimungkinkan jarak jangkau AIS di suatu kapal dapat mencapai 70 mil (2 x 35 mil).

    ReplyDelete
  6. Maaf mau tanya, kalau mau pasang AIS Transceiver kita harus punya MMSI number untuk dapat memancarkan data kapal kita, sebagai contoh kapal-kapal di Singapore mendaftarkan AIS mereka ke SingTel, bagaimana dan dimana tempat registrasi untuk mendapatkan MMSI number AIS tersebut, terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Yudianto, terima kasih telah membaca tulisan saya. Mudah2an berguna.
      Ttg registrasi AIS, pada saat pemasangan di kapal harusnya sdh sekalian registrasi. Ttp apabila belum (ganti bendera atau br beli kpl), silakan ditanyakan ke Subdit pendaftaran kapal di Jln. Medan Merdeka Barat (Kemenhub - Lantai 12)

      Delete
  7. Saya punya ais awalnya registernya kog rusia ya capt begitu buka marine traffic langsung posisi kpl dirusia setelsh seting mmsi di ais saya rubah mmsi baru dari perhubungan kog benderanya gak berubah masih rudia podidi jg dirusia padahal call sign nama kpl dan number imo sesuai gimans mengatasinya ya capt mohon pencerahannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Hendri, sebaiknya disampaikan ke manufacturer atau agennya supaya di reset. Seharusnya kalo AIS ya mestinya posisi sesuai GPS di kpl. Yg terdeteksi hrsnya kapal2 disekitar kita dalam radius kurang lebih 35 mil (jangkauan VHF).

      Delete
    2. Mas Hendri, sebaiknya disampaikan ke manufacturer atau agennya supaya di reset. Seharusnya kalo AIS ya mestinya posisi sesuai GPS di kpl. Yg terdeteksi hrsnya kapal2 disekitar kita dalam radius kurang lebih 35 mil (jangkauan VHF).

      Delete
  8. Salam kenal Capt. Hadi. Saya ingin tanya jika Tracking kapal di AIS tidak sama dengan tracking kapal pada aslinya kira2 kesalahannya di alatnya atau pada satelitnya? Mohon pencerahan. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas, Ada terrestrial AIS dan Satellite AIS. Kalo yg disyaratkan IMO adalah terrestrial AIS menggunakan VHF. Sy tdk tahu kasusnya spt apa, tp mungkin ga ada yg salah. Kemungkinan proses pada ECDIS nya yg membuat perbedaan. Terutama kalau menggunakan ENC. Ini namanya 'anomali'pada ECDIS nya (IMO MSC.1/Circ.1503). Unt mengurangi kasus spt ini, hati2 dalam zoom-in dan zoom-out pd ECDIS

      Delete
  9. Terima kasih atas pengetahuannya capt. Hadi supriyono, sangat bermanfaat. Salam pelaut indonesia

    ReplyDelete
  10. Selamat malam capt. Hadi , terkait untuk meningkatkan keamanan, US Coastguard telah membuat persyaratan untuk semua kapal mengunakan AIS. Kenapa di Indonesia masih ada kapal yang tidak menggunakan AIS, dimana AIS merupakan sarana keselamatan bagi Kapal tsb dan kapal lain? mohon mpenjelasan dari Capt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Fery,
      Kalau AIS Class-A yang disyaratkan oleh IMO sudah harus diberlakukan untuk kapal2-kapal yang terkena Konvensi SOLAS (International voyage), termasuk kapal-kapal bendera Indonesia (Indonesia sudah memberlakukan dalam Flag State Control). US Coastgurd memberlakukan AIS untuk semua kapal yang masuk US territory, ada yang Class A dan ada yang Class-B.
      Mengapa Indonesia tidak demikian? Tiap negara memiliki kedaulatan yang mutlak, sehingga boleh menentukan sesuai dengan kondisi negaranya.
      Saya pernah mendapat informasi dari Direktur Navigasi bahwa Indonesia sedang merancang peraturan bahwa semua kapal yang masuk pelabuhan yang sudah difasilitasi dengan VTS, wajib memasang AIS. Bagi kapal yang tidak terkena Konvensi SOLAS, boleh memasang AIS Class-B (Seperti USA)

      Delete